Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane merupakan salah satu DAS utama di wilayah barat Pulau Jawa dengan luas sekitar 1.330 km². Secara administratif, DAS ini melintasi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kabupaten Tangerang, serta bermuara di wilayah pesisir utara Provinsi Banten.
Bagian hulu Sungai Cisadane berada di kawasan pegunungan, terutama berasal dari Gunung Gede–Pangrango dan juga memperoleh kontribusi aliran dari Gunung Salak. Sistem aliran di hulu diperkuat oleh beberapa anak sungai, salah satunya Sungai Cianten.
Berdasarkan gambar berikut, jaringan sungai yang ditunjukkan oleh garis biru mengalir dari wilayah pegunungan di barat–selatan ke dataran rendah di timur–utara hingga bermuara. Sementara itu, batas DAS ditandai dengan garis hitam yang mengelilingi seluruh area tangkapan air.
Dalam pemodelan menggunakan sistem Flood Early Warning System (FEWS), DAS Cisadane direpresentasikan oleh empat titik pengamatan utama yang mencerminkan kondisi aliran dari hulu hingga hilir, yaitu:
Bendung Empang – mewakili kondisi aliran di bagian hulu (sekitar Kota Bogor)
Jembatan Jalan Raya Leuwiliang – mewakili wilayah tengah bagian barat
Bendung Pasar Baru – mewakili kondisi aliran di bagian tengah–hilir
Jembatan Jalan Sudirman – mewakili kondisi di bagian hilir mendekati muara
Pada peta, keempat lokasi tersebut ditandai dengan titik merah yang tersebar sepanjang alur utama Sungai Cisadane. Distribusi lokasi pengamatan ini dirancang untuk menangkap dinamika perubahan debit dan tinggi muka air secara longitudinal, mulai dari daerah hulu yang curam hingga wilayah hilir yang relatif datar dan rentan terhadap banjir.
Gambar berikut menunjukkan batas DAS, jaringan sungai, serta lokasi titik pengamatan yang digunakan dalam analisis dan pemodelan DAS Cisadane.
Hidrograf prediksi yang ditampilkan pada halaman ini menunjukkan perkiraan respon debit aliran terhadap kondisi hujan berdasarkan hasil analisis hidrologi terkini. Grafik hidrograf mencakup informasi debit masuk (inflow), debit keluar (outflow), intensitas hujan, serta ambang batas peringatan banjir (Waspada, Siaga, dan Awas).
Perlu diperhatikan bahwa grafik hidrograf ini bersifat dinamis dan diperbarui secara otomatis sesuai dengan data hujan dan pemodelan hidrologi terbaru. Oleh karena itu, bentuk dan nilai hidrograf dapat berubah seiring waktu mengikuti perkembangan kondisi hidrometeorologi.
Bendung Empang adalah salah satu titik pengamatan utama di DAS Cisadane yang berlokasi di Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat. Letaknya di alur utama Sungai Cisadane menjadikannya representatif untuk menggambarkan kondisi hidrologi hulu DAS. Karena berada relatif di bagian hulu, debit air di Bendung Empang menjadi acuan awal untuk memahami dinamika aliran sebelum menuju wilayah tengah dan hilir.
Jembatan Jalan Raya Leuwiliang merupakan salah satu titik pengamatan di DAS Cisadane yang terletak di Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasi ini berada di Sungai Cikaniki, bagian dari sistem Sungai Cianten, salah satu anak sungai utama yang bermuara ke Sungai Cisadane.
Sungai Cianten, termasuk Sungai Cikaniki, memiliki daerah tangkapan air yang berasal dari kawasan Gunung Salak. Karena itu, karakter alirannya sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi pegunungan. Dengan demikian, titik pengamatan di Jembatan Leuwiliang penting untuk menggambarkan kontribusi aliran sub-DAS Cianten terhadap aliran utama Sungai Cisadane.
Data dari lokasi ini digunakan untuk memahami dinamika aliran di bagian tengah–barat DAS, terutama pengaruh limpasan dari kawasan Gunung Salak sebelum masuk ke aliran utama Sungai Cisadane.